Site Search

Ekonomi Triwulan III 2009

Ekspansi dengan Daya Terbatas. Perekonomian Indonesia pada triwulan ketiga tahun ini tumbuh lebih cepat ketimbang triwulan sebelumnya. Roda ekonomi agaknya tengah memasuki masa ekspansi.

Mulai pulihnya perekonomian global menjadi salah satu pendorong. Sektor telekomunikasi dan transportasi masih yang tertinggi. Sayang, dukungan dari perbankan masih terbatas. Suku bunga kredit masih enggan turun, bahkan bunga kredit konsumsi naik tipis. Pertumbuhan kredit juga minus. Masih harus waspada.

TAK seperti biasanya, Indeks Kepercayaan Konsumen kali ini tumbuh di kalangan masyarakat berpengha­silan rendah. Ini dipicu oleh berkurangnya tekanan inflasi setelah Lebaran. Faktor ini pula yang mendongkrak penilaian masyarakat akan kemampuan pemerintah menjaga kestabilan harga. Gara-gara inflasi terjaga, biaya operasional perusahaan susut. Penjualan dan laba perusahaan ikut terkerek. Untuk sementara, masyarakat bisa dibilang cukup puas terhadap keadaan perekonomian saat ini.

Meskipun demikian, mencuatnya kasus hukum yang melibatkan beberapa lembaga penegak hukum memberikan pengaruh negatif terhadap persepsi masyarakat akan kemampuan pemerintah menegakkan hukum. Ketidakpastian hukum ini, bila tidak segera diselesaikan, bisa menjadi bumerang pada masa mendatang. Apalagi pelaku usaha masih waspada akan kondisi ekonomi saat ini. Bisa-bisa, sentimen pebisnis terhadap pemerintah yang lagi luruh itu makin tergerus.

Indeks Kepercayaan Konsumen
Tumbuh di masyarakat menengah bawah

IKK

Setelah pada Agustus lalu mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir, indeks cenderung melemah dalam dua bulan terakhir. Meski begitu, nilai indeks masih relatif tinggi. Pada Oktober, indeks turun dari 87,5 ke 87,4. Pelemahan ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran konsumen akan potensi naiknya harga bahan makanan dan makanan jadi.

Naiknya harga bahan pokok mempengaruhi persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini. Indeks Saat Ini (ISI) turun dari 70,7 menjadi 70,1. Namun optimisme konsumen terhadap prospek perekonomian cenderung membaik. Indeks Ekspektasi—menggambarkan ekspektasi rumah tangga terhadap keadaan ekonomi di masa depan—tumbuh 0,3 persen.

Hasil survei menunjukkan bahwa konsumen memperkirakan suku bunga di masa depan cenderung naik. Hal ini sedikit mempengaruhi rencana pembelian barang tahan lama. Proporsi konsumen yang berencana membeli barang tahan lama (durable goods) pada enam bulan mendatang turun dari 24,8 persen menjadi 22,7 persen.

Setelah Lebaran, keyakinan rumah tangga terhadap ekonomi berdasarkan kelompok pendapatan juga berubah. Indeks kepercayaan masyarakat berpendapatan kurang dari Rp 500 ribu per bulan tumbuh 24,5 persen, dan indeks masyarakat berpendapatan Rp 500 ribu 700 ribu per bulan naik 10,4 persen. Sementara indeks masyarakat berpendapatan Rp 700 ribu 1,5 juta per bulan justru melemah 0,3 persen. Dan indeks masyarakat berpenghasilan di atas Rp 1,5 juta per bulan tergerus 3,3 persen. Tingginya kepercayaan masyarakat menengah ke bawah dipicu oleh berkurangnya tekanan inflasi setelah Lebaran.


Indeks Kepercayaan Konsumen Kepada Pemerintah
Tertinggi dalam lima tahun terakhir

IKKP

Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah berada pada level yang tinggi. Indeks ini mengalami tren pe­nguatan sejak Juli 2008. Pada Agustus lalu, indeks mencapai level tertinggi dalam lima tahun terakhir, mencapai 118,9. Pada September, indeks sempat turun menjadi 113,4, tapi lalu naik kembali pada Oktober ke level 114,2.

Indeks sempat turun akibat naiknya inflasi pada Ramadan. Gara-gara hal itu, kenyamanan konsumen yang telah menikmati stabilnya harga barang dalam bulan-bulan sebelumnya terganggu. Penurunan ini terlihat dari luruhnya penilaian masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dalam menjaga kestabilan harga. Untungnya, ren­dahnya inflasi pada Oktober mendong­rak indeks.

Pola yang relatif sama terlihat pada pergerakan komponen indeks yang menunjukkan penilaian masyarakat terhadap kemampuan pemerintah memperbaiki keadaan ekonomi secara keseluruhan. Hal ini mengindikasikan masyarakat masih cukup puas akan keadaan ekonomi saat ini.

Namun komponen indeks yang menunjukkan penilaian masyarakat terhadap kemampuan pemerintah menjalankan penegakan hukum turun signifikan. Pada Agustus, komponen ini mencapai level 127,9. Pada September, turun menjadi 124,7. Pada Oktober kembali turun ke level 120,8. Mencuatnya kasus hukum yang melibatkan beberapa lembaga penegak hukum memberikan pengaruh negatif terhadap persepsi masyarakat akan kemampuan pemerintah menegakkan hukum.


Coincident dan Leading Economic Index
Prospek ekonomi cerah

CEI LEI

Pada September, Coincident Econo­mic Index (CEI) naik menjadi 108.8, atau bergerak tipis 0,3 persen dari bulan sebelumnya. Indeks ini naik tujuh bulan berturut-turut. Ini mengindikasikan aktivitas perekonomian terus meningkat. Pengujian lebih saksama menggunakan metode sequential signaling me­thod (SSM) menunjukkan bahwa Coincident Index telah mencapai titik terendah pada Februari 2009. Artinya, perlambatan aktivitas ekonomi yang terjadi sejak Juli 2008 telah berakhir pada Februari. Sejak Maret, perekonomian sudah berada dalam fase ekspansi.

Peningkatan aktivitas perekonomian ini terutama ditopang oleh konsumsi, yang didukung oleh perbaikan daya beli masyarakat. Perbaikan daya beli tecermin pada peningkatan Indeks Kepercayaan Konsumen. Tingkat inflasi yang kian terkendali telah memberikan dampak positif terhadap daya beli masyarakat.

Leading Economic Index juga naik 0,4 persen pada September. Tren yang meningkat ini telah berlangsung sejak November 2008. Hal ini mengindikasikan prospek perekonomian Indonesia kian cerah.

Ada beberapa faktor yang diperkirakan dapat menjadi pemicu perbaikan ekonomi Indonesia ke depan, antara lain perbaikan daya beli masyarakat (tecermin pada peningkatan kepercayaan konsumen dan laju inflasi yang terkendali), perbaikan sentimen pelaku bisnis, suku bunga pinjaman yang menurun, serta pemulihan ekonomi global. Dua faktor terakhir diprediksi akan menjadi pendorong utama peningkatan investasi dan ekspor Indonesia ke depan.

blog comments powered by Disqus